7up adalah merek minuman ringan bersoda yang ijin lisensinya dipegang oleh Pepsi. Jenis minuman ini kini telah berkembang ke minuman non-kafein dan non-soda. Merk minumam ini memang tak setenar merk Coca-Cola dan Sprite, namun semua minuman bersoda tak baik dan tak bijak rasanya bila dihidangkan sebagai menu buka puasa. Bisa dibayangkan lambung akan ‘demo’ setelah dihajar oleh minuman bersoda.
Bagaimana bila menu buka puasa adalah hidangan berupa pergerakan lempang bumi berkekuatan 7.3 SR? Pastilah ibu-ibu yang sedang belanja, yang sedang memasak untuk jualan di pasar Ramadhan, yang sedang menyiapkan makanan buka puasa mendadak panik dan meninggalkan menu masakan yang sedianya akan disajikan.
Teringat gempa Jogja 27 Mei 2006 sekitar jam 05.55 berkekuatan 5,9 SR yang menelan ribuan jiwa. Panik luar biasa, mengira itu adalah gempa vulkanik dari gunung Merapi, melihat bangunan runtuh, bangunan yang dulunya gagah kini terduduk hingga terjebak dalam gelombang migrasi manusia yang menyelamatkan diri dari isu tsunami. Tak bisa membayangkan gempa yang terjadi di Tasikmalaya, gempa Jogja 5,9 SR aja udah segitu gede apalagi 7,3 SR?
Meninggalnya raja pop dunia menyisakan duka bagi penggemarnya, berbagai berita headline menghias media. Namun berita tentang kepergian Jacko sekejap hilang seiring dengan berita teror bom yang kembali mengguncang Indonesia. Situs youtube, blogger, dan situs-situs jejaring social lainnya seperti Plurk, Facebook, atau Twitter dipenuhi dengan pokok pembahasan soal bom, bukan soal Jacko. Berita soal Jacko menghilang berganti soal ledakan bom.
Yup, ada datang dan pergi, warna dunia silih berganti. Ada saatnya pembaharuan, pergantian, namun bukan pergantian yang kea rah yang lebih buruk yang kita harapkan. Menyambut kedatangan MU adalah momen yang tepat untuk menghancurkan nama Indonesia, bak sebuah iklan gratis untuk membuka mata dunia terhadap Indonesia.
Turut berduka cita atas kejadian ini dan khususnya berduka cita untuk negeri ini.
“Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan…”
Semenjak raja pop Michael ‘Jacko’ Jakson meninggal beberapa hari yang lalu seolah dunia kehilangan seorang sosok musisi, terlepas dari berbagai masalah hutang-piutang dan masalah hukum yang menjeratnya. Perjalanan karir musiknya mulai dari awal karir menjadi perhatian di berbagai media berita mulai dari televisi, radio hingga blog akhir-akhir ini.
Pagi-pagi lihat berita TV beritanya Jacko,
Di kantor tiba-tiba pada dengerin lagu-lagunya Jacko,
Browsing Internet isinya Jacko,
Blogwalking, buka Facebook ga jauh-jauh ama Jacko,
‘Konser’ di NAV, ada yang teriak-teriak nyanyiin Black or White.
Jacko memang lagi anget-angetnya dibahas, namun saya hanya membicarakan mereka yang tiba-tiba membicarakan Jacko (termasuk saya, hehehehe….).
Berita tentang kasus flu Babi memang belum padam, kekhawatiran akan bertambahnya korban segera direspon oleh WHO dengan meningkatkan status tingkat kesiagaan. Di balik usaha dunia untuk mencegah penyebaran virus flu Babi, kini ditemukan ‘vaksin’ yang diklaim ampuhuntuk menangkal tertularnya virus berbahaya ini. Mau tahu seperti apa ‘vaksin’nya?
(dapet foto tersebut dari temen yang entah dari mana asal muasalnya)
Saya prihatin melihat banyaknya caleg yang mengalami gangguan jiwa karena kalah dalam perebutan kursi jabatan. Tak hanya caleg, namun anggota tim sukses bahkan ikut-ikutan stress lantaran membayangkan jumlah uang yang telah menguap tanpa hasil. Apa yang mereka harapkan saat duduk di kursi pemerintahan? Tentu tak jauh-jauh dari prestise, jabatan dan materi.
Saya jadi teringat dengan sebuah rahasia keberuntungan yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu, di mana sebuah keberuntungan akan datang di saat kita memang siap menerimanya. Melihat kondisi para mantan caleg kita, saya merasa bersyukur mereka tidak terpilih, ternyata ketahuan mereka tidak siap. Ketika kampanye mengobral janji, tapi ketika kalah, sumbangan saat kampanye diminta lagi.
Mungkin bila mereka benar-benar terpilih bukan tidak mungkin akan terlena dan silau dengan materi dan jabatan. Bisa-bisa benar adanya apa yang saya sampaikan saat postingan Jangan Pilih Saya. Mereka mementingkan kesejahteraan keluarga, pribadi dan rekan-rekannya lupa ama janji saat kampanye dan segera mencari cara untuk segera mengembalikan modal kampanye.