“Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan…”
Semenjak raja pop Michael ‘Jacko’ Jakson meninggal beberapa hari yang lalu seolah dunia kehilangan seorang sosok musisi, terlepas dari berbagai masalah hutang-piutang dan masalah hukum yang menjeratnya. Perjalanan karir musiknya mulai dari awal karir menjadi perhatian di berbagai media berita mulai dari televisi, radio hingga blog akhir-akhir ini.
Pagi-pagi lihat berita TV beritanya Jacko,
Di kantor tiba-tiba pada dengerin lagu-lagunya Jacko,
Browsing Internet isinya Jacko,
Blogwalking, buka Facebook ga jauh-jauh ama Jacko,
‘Konser’ di NAV, ada yang teriak-teriak nyanyiin Black or White.
Jacko memang lagi anget-angetnya dibahas, namun saya hanya membicarakan mereka yang tiba-tiba membicarakan Jacko (termasuk saya, hehehehe….).
(lyric : Percayakan Padaku – So7)
Hutang materi ataupun hutang budi bisa dipastikan hampir setiap orang mengalaminya. Kalau soal hutang materi orang bilang hidup ini gak seru kalau gak punya hutang. Kita lihat mereka yang punya usaha sendiri punya hutang untuk mengawali usahanya. Para pengusaha sukses menjalankan bisnisnya yang diawali dari hutang.
Hutang bisa dijadikan sebuah motivasi, pernyataan ini pernah saya dengar dari seorang pengemudi angkot dalam sebuah percakapan di dalam angkot di sebuah pagi. Namun yang namanya hutang mempunyai konsekuensi, hutang adalah janji yang harus dibayarkan. Semoga sebelum berhutang kita memahami konsekuansinya, bijak mengelola hutang dan terhindar dari lilitan hutang yang berlebihan misalnya kartu kredit.
Hutang budi, hutang materi? Asal bukan hutang belantara aja.ntar kesasar ketemu macan :d.*maksa* .
utangin donk..!!! :p
Hi Bro…
gmn neh…ad info loker tak di kalimantan
pengen deh nyobain
Begitulah isi sepenggal e-mail dari rekan lama beberapa waktu yang lalu dan sebelumnya ungkapan yang bernada sama telah mampir beberapa kali. Dalam bulan ini setidaknya ada 5-6 orang yang minta info lowongan pekerjaan. Yang jelas, saya bukan calo TKI, namun setiap mendengar ungkapan itu saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat masih menyandang status PENGACARA alias pengangguran banyak acara.
Ah, saya bukan pengusaha (belum, amin..) yang sanggup menciptakan lapangan pekerjaan, saya hanyalah pekerja biasa. Jikalau punya kesempatan, saya ingin menjawab beberapa ungkapan seperti dalam e-mail tadi dengan jawaban sebuah kabar gembira untuk mereka. Ah, kapan ya?